Minggu, 24 April 2016

Barokah ber-PMII: Dulu Keliling Rayon-Rayon Sekarang Keliling Kelurahan-Kelurahan

BerPMII-lah karena PMII akan membawa barokah untuk kader-kadernya. 

Saya yakin setiap kader mempunyai pengalaman religuisitas sendiri ketika berproses di Organisasi PMII, begitu pun saya. Setiap liku kehidupan saya tak luput dari barokah berPMII.

Rayon Penakluk Al- Adawiyah
Rayon Penakluk Al- Adawiyah
Keputusan menjadi anggota PMII adalah awal perjalanan yang akan kamu banggakan –jika kamu PMII- dan saya bangga saya anggota PMII. Menjadi anggota PMII diawal masuk kuliah kalian akan mendapatkan apa yang kalian harapkan, teman, sahabat, ilmu, praktek keilmuwan dan tentunya praktek berorganisasi. Rayon Al Adawiyah menjadi ruh saya dalam berproses di Organisasi tercinta ini.  Ditunjuk menjadi ketua Kemah Kader Rayon (KKR) membuat saya belajar tentang menangani segala perbedaan individu untuk meraih  tujuan bersama, yaitu keakraban, ilmu dan having fun. Berproses di Rayon Al Adawiyah memenuhi segala tugas perkembangan  akhir masa remaja saya, 17 tahun, ya usia saya lebih muda dari teman-teman sebaya saya.



Rayon memfasilitasi perkembangan kematangan emosi dan  diri, memfasilitasi segala minat dan bakat, menunjukan kelompok sosial yang sederhana yang terbukti nyaman untuk berbagai karakteristik kepribadian, dan kematangan nilai moral ‘keadilan yang harus diperjuangkan’ tumbuh bersemi saat proses di Rayon. Dari rayon saya diajari berfikir kritis kemudian mengkritisi kebijakan yang ada –kebijakan kampus- pengalaman tak terlupakan ikut berdemo di depan rektorat, memekikkan semangat mahasiswa dan ikut sebagai saksi mata pecahnya pintu kaca rektorat UIN Malang.

Barokah PMII tentunya bisa aktif di kampus, sebagai Koordinator Out Bond, sekertaris BEM Fakultas dan Ketua Pelaksana OSPEK Fakultas. Banyak lainnya yang mungkin akan berlembar-lembar ketika saya ceritakan dalam tulisan.  Kurang lebih 3 tahunan berproses di rayon, menjadi anggota, berlanjut menjadi kader dan kemudian menjadi pengurus Rayon Al Adawiyah.

Semester 7 menjadi pengurus Komisariat, sebagai bendahara -bendahara tunggal- membuatku ikut dalam setiap kegiatan Komisariat. Seperti halnya rayon, komisariat menjadi rumah kedua saya yang kemudian menjadi rumah ketiga  setelah rumah orangtua dan pondok pesantren tempat tinggalku. Akhir kepengurusan saya memutuskan untuk tinggal dipondok pesantren sebagai penunjang skripsiku sesuai petunjuk dosen waliku yang juga IKAPMII, bahwa kiayi di Pondok Gasek juga IKAPMII.


Barokah PMII, Pondok pesantren ini yang mengajarkan saya banyak ilmu agama. Tinggal dipondok pesantren bukan halangan untuk tetap aktif ber-PMII, dengan alasan jujur berkegiatan PMII  kepada umi saya tetap bisa mengikuti kegiatan-kegiatan PMII. Selama masih siang segala aktifitas saya kerjakan di komisariat –skripsi- menjelang maghrib pulang ke pondok. Di komisariat saya mempunyai almari khusus untuk menyimpan barang dan bajuku. Kegiatan Komisariat juga berkeliling rayon untuk menghadiri kegiatan rayon-rayon, dan tak jarang mewakili kepengurusan komisariat untuk menutup atau membuka kegiatan Rayon.

Hal yang menyedihkan,  ketika benar-benar tidak ada uang sehingga menunggak pembayaran listrik kantor komisariat, merasakan air yang terkadang mati sehingga untuk berwudhu menunggu setetes demi setes air mengalir di kran dan merasakan kantor komisariat yang gelap gulita tanpa listrik karena di blokir belum membayar 3 bulan. Setelah saya lulus dan bekerja di Telkom saya bisa nalangin dikit-dikit. Saat kepengurusan Komisariat saya sambil bekerja di PT Telkom Indonesia sebagai telemarketin 147, lewat perusahan outsourching yang dimanageri oleh alumni Rayon Al Adawiyah dan diwawancari oleh senior Rayonku juga yang bekerja sebagai Staff HRD di Telkom. Rejeki tak kemana. Akhir kepengurusan ditutup dengan rasa puas  ketika mempresentasikan alur keuangan komisariat.


Berlanjut pada kepengurusan Cabang, mau tau lanjutannya??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar